Featured

Featured

8/recent

Deaf Art Community (DAC) Yogyakarta x Tutti Arts Australia : BEASTLY! Ketika Kesulitan Bukan Penghalang untuk Berkarya

by 10:30



The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart - Helen Keller

Kembali ke masa dimana saya masih menggunakan seragam putih-merah di ruangan perpustakaan sekolah. Salah satu buku yang sering saya baca adalah buku seri tokoh dunia dalam bentuk komik, dan menemukan sosok Helen Keller bisa dikatakan sebagai hal yang tidak terlupakan. Bagaimana bisa seorang buta, tuli, dan bisu menjadi penulis dan aktivis. Padahal kalau diingat-ingat nih, ketika mata bengkak saat terkena virus dan pandangan menjadi sangat kabur saja rasanya sudah sangat sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, ketika pada tanggal 2-4 Februari 2018 kemarin saat DAC (Deaf Art Community) Yogyakarta mengadakan sebuah pameran seni, saya sangat tertarik untuk mengunjunginya.



DAC ini merupakan sebuah komunitas di Yogyakarta, tidak hanya bagi orang-orang tuli namun juga orang-orang tidak tuli. Selain sebagai wadah untuk saling berkenalan, mencari teman baru, dan belajar bahasa isyarat, para anggota DAC ini ternyata cukup sering pentas seni pertunjukan. Pada event kali itu, pertunjukan yang disajikan oleh mereka bertemakan "BEASTLY!"

Pertunjukan tersebut merupakan hasil kolaborasi DAC dengan Tutti Arts Australia yang bertujuan untuk mempromosikan karya-karya seniman difabel ke ajang internasional. BEASTLY! sendiri menceritakan tentang dunia hewan dan spesies langka yang dijembatani oleh mitos-mitos tentang hewan itu sendiri. Cukup rumit bukan? mudahnya, BEASTLY! mengingatkan kita untuk tidak terlalu sombong hidup menjadi manusia.



Dalam satu hari terdapat 3 pertunjukan yang dapat kalian nikmati, sayangnya masing-masing pengunjung dibatasi untuk melihat 1 pertunjukan perharinya dikarenakan banyaknya jumlah pengunjung yang datang. Semakin malam bukannya semakin sepi malah semakin ramai. Masing-masing pertunjukan tersebut antara lain,

BEAST
Jalur cerita mengenai sesosok makhluk di dalam gua yang kebingungan harus melakukan apa ketika manusia memasuki gua tersebut. Jalur cerita ini hanya memperbolehkan 1 orang masuk setiap sesinya, dan merupakan jalur dengan antrian terpanjang.

BOWERBIRD
Jalur cerita mengenai Burung Bower yang berusaha membangun sarang cantik untuk calon pasangannya karena jumlah burung betina yang semakin berkurang. Untuk kalian yang berpasangan, bisa masuk ke pertunjukan ini berdua.

COLLECTOR
Menceritakan mengenai Sang Kolektor yang mengkoleksi spesies-spesies yang ada sebelum akhirnya mereka menghilang. Pertunjukan ini dapat dinikmati hingga 3 orang.



Setelah menentukan ingin melihat pertunjukan yang mana, kita bisa langsung mendaftarkan nama ke panitia di depan dan menunggu untuk dipanggilkan namanya. Selama menunggu kalian bisa berkeliling melihat lukisan-lukisan karya seniman street art, Andres Busrianto yang berada di sekeliling area pertunjukan, menikmati hidangan ala angkringan, atau membeli merchandise.



Hal yang cukup menarik bagi saya adalah, seperti setelah kita mendaftarkan nama panitia akan berusaha mengingat para pengunjung, karena tidak seperti kebanyakan pertunjukan, pemanggilan nama maupun nomor tidak menggunakan mic. Jika begitu, sangat salut untuk kerja kerasnya, terutama bagi pengunjung baru seperti saya yang bukan berasal dari Yogyakarta.


 gua tempat Beast bersemayam

Saya sendiri memilih pertunjukan COLLECTOR karena adik tidak mau masuk gua Beast sendirian hahaha, dan sebenarnya memang harus cepat pulang karena masih ada yang harus dikerjakan keesokan harinya.

Tidak lama berkeliling, kami pun diperbolehkan masuk ke ruangan dimana Sang Kolektor berada. Bersama dengan satu orang lainnya, kami dipersilahkan duduk di kursi dengan ukuran pas untuk 3 orang.

Lampu remang, musik dinyalakan, Sang Kolektor berbalik dan duduk di depan kami. Memandangi kami satu persatu dengan mimik muka menakutkan dan sedikit mencemooh. DAMN! Kenapa saya harus duduk di tengah, tepat di depan Sang Kolektor sih?!! Jaraknya lumayan dekat, rasanya seperti sedang bimbingan skripsi tapi dengan suasana lagi OSPEK gitu. Selama beberapa menit kedepan saya hanya bisa memandang bahu Sang Kolektor. GOOSEBUMPS!

Satu persatu Sang Kolektor menunjukan koleksinya, ada kadal ada serangga, dll. Tidak lama, dia mengeluarkan tabung kaca ukuran lebih besar, membaliknya dan terdapat tulisan...

KAMU

Wuanjir! maksudnya apa itu. Di pikiran saya terbayang kami akan dikuliti satu-satu dan tidak dapat keluar dari ruangan. Namun ternyata, pertunjukan berakhir, kami diperbolehkan untuk keluar dan sedikit mendapatkan souvenir yang berisi,


souvenir dari Sang Kolektor, bisa jadi bahan refleksi

Jujur saja, ketika datang ke pertunjukan ini saya sama sekali tidak menyangka bahwa akan disuguhkan pertunjukan bergaya pantomin seperti ini dan untuk saya pertunjukan ini adalah yang pertama kali dan sangat berkesan. THRILL nya sangat terasa, apa karena saya duduk tepat di depan Sang Kolektor ya?

  

Pada saat itu, saking penasarannya dengan 2 pertunjukan lainnya saya berencana untuk datang kembali di hari berikutnya. Namun akhirnya, tidak bisa datang karena pekerjaan yang belum selesai. Masih penasaran dengan jalur cerita BEAST. Melihat komentar yang lucu-lucu, segala macam dikasih souvenir batu tuh rasanya...ingin kembali.

Overall, sungguh acara yang sangat menghibur dan memberikan pengalaman baru bagi saya. Semoga kedepannya jika ada acara lainnya dari DAC saya dapat kembali berkunjung. Syukur-syukur bisa berkenalan juga dan mempelajari kembali bahasa isyarat saya yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak terpakai. Sukses selalu DAC Yogyakarta dan Tutti Arts Australia!! Thank you for an amazing performance. 


Museum Ullen Sentalu : Ketika Putri Kerajaan Jatuh Cinta

by 12:45


   Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.

Perjalanan saya menuju Museum Ullen Sentalu di daerah Kaliurang, Yogyakarta sebenarnya cukup mencemaskan, karena saya tahu letak museum ini berada di sekitar kaki gunung merapi dan kondisi motor yang dipergunakan saat itu tidak dalam kondisi prima. Apa daya, rasa penasaran akan museum yang mendapatkan predikat sebagai Museum Terbaik di Indonesia, versi Tripadvisor ini sepertinya membesarkan nyali saya untuk tetap berkunjung.

Rimbun, Hijau, dan Adem!!

Kesan pertama ketika sampai disana. Tidak buang waktu, saya langsung menuju tempat pembelian tiket, IDR 40.000. Harganya naik dari terakhir saya membaca ulasan-ulasan mengenai tempat ini.


Tidak lama kemudian, tour selama kurang lebih 40 menit pun dimulai! Museum ini terbagi menjadi beberapa bagian dan ruangan, isinya beragam mulai dari kebaya permaisuri, satu set gamelan jawa, kumpulan lukisan dan foto dari Kerajaan Mataram. Terdengar sederhana dan tidak berbeda dengan musum lainnya bukan?

Awalnya hanya ada Kerajaan Mataram, sebelum akhirnya terpecah menjadi empat.

Bedanya, di museum ini para pengunjung tidak dibiarkan menjelajah sendirian namun dipandu oleh seorang pemandu museum. Sangat cocok bukan bagi pengunjung yang suka bingung atau tidak biasa membaca informasi di museum.

Dari pemandu museum tersebut, saya baru mengetahui bahwa, ternyata selain memiliki nama Jawa ada beberapa raja yang memiliki nama 'londo', ada putri raja yang sedikit tomboi dan menggebrak kebiasaan seorang putri, raja yang tidak memiliki permaisuri, ratu jawa yang fashionable, putri kerajaan yang ketika akan mengirimkan pesan cinta ke kekasihnya harus memperlihatkannya terlebih dahulu ke ayahnya, dan putri yang galau karena tidak diizinkan menikah dengan pria tercintanya. Kasihan.

Untuk putri yang terakhir tersebut, ada hal yang cukup menarik bagi saya. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, dan perubahan zaman namun pada dasarnya manusia tidak pernah berubah. Saat putri tersebut sedang galau, banyak anggota kerajaan dari saudara sepupu hingga paman dan bibi menyemangati dengan mengirimkan surat kepadanya. Kalau zaman sekarang sih mungkin bisa langsung dengan Whatsapp atau Line ya. Isi surat-suratnya pun sebenarnya sangat menarik untuk dibaca, ada yang kurang lebih berkata "ikhlaskan", ada juga yang menulis "dekatkan dirimu kepada Sang Pencipta", dan untaian kata penyemangat lainnya.

Sangat menarik untuk dibaca dan dihayati, sayang waktu di ruangan tersebut tidak banyak, untungnya saya berhasil menulis sebuah surat yang saya suka,

Kota Kasunanan

Gusti sayang
Kupu tanpa sayap
Tak ada di dunia ini
Mawar tanpa duri
Jarang ada atau boleh dikata tak ada
Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini

Gimana? lebih mirip sebagai puisi bukan ketimbang sebuah surat. Kisah putri tersebut ternyata tidak berakhir disitu, pemandu wisata kami melanjutkan ceritanya, dan kalian dapat langsung berkunjung kesana untuk mendengar akhir cerita dari putri tersebut.


Ditengah tour, kami diizinkan beristirahat di sebuah ruangan berkaca dimana akan disediakan wedang khusus dari Museum Ullen Sentalu yang katanya sih resep kerajaan! Sangat menyenangkan bisa beristirahat di sini karena dikelilingi oleh pepohonan hijau rindang. Oh iya! di sini juga terdapat beberapa penghargaan yang didapatkan oleh museum ini dari beberapa lembaga dan juga buku evaluasi para pemandu tour, jadi kalau kalian ingin memberi kesan, saran dan kritik kepada mereka juga dapat dituliskan pada kesempatan ini. Tenang saja, karena pemandunya juga mungkin sedang beristirahat sejenak, dia tidak akan melihat kalian.


Sampai pada bagian akhir tour, sebuah area terbuka dimana para peserta diperbolehkan untuk foto di area ini. Terdapat relief seperti yang ada di Candi Borobudur. Relief ini sengaja dipasang miring sebagai bentuk keprihatinan terhadap anak-anak muda yang mulai melupakan kebudayaannya. Sejujurnya sampai sekarang pun saya masih mencari benang merah antara relief ini dan maknanya. Mungkin ada dari kalian yang bisa membantu?


Akhir tour pada Museum Ullen Sentalu. Bagi kalian yang tidak puas karena tidak dapat berfoto di dalam, bagian akhir museum ini juga sebenarnya indah dan cocok untuk berfoto (kalau tidak ramai), atau mungkin kalian dapat mengunjungi toko souvenir dan Restoran Beukonheuf yang berada di bagian atas. Saya sendiri kemarin langsung kembali menuju kota karena langit mulai mendung, dan khawatir akan hujan deras.


Untuk saya, museum ini merupakan museum yang sangat mengedukasi dan terus terang sedikit suka dengan peraturan no picture, no record selama tour, mungkin supaya peserta dapat lebih fokus mendengarkan cerita pemandu tour karena memang terdapat banyak cerita-cerita menarik yang bisa didapatkan dari mereka. Cocok juga bagi kalian yang lelah akan kebisingan kota dan ingin kabur selama 40 menit untuk menenangkan diri. Sayangnya, museum ini masih belum aksesibel bagi pengguna kursi roda maupun tongkat kruk karena medannya yang melewati tangga dan licin ketika hujan.

Untuk transportasi, lebih baik jika menggunakan kendaraan pribadi karena fasilitas umum yang tidak memadai. Untuk yang datang secara rombongan, juga tersedia ruang parkir yang cukup lapang untuk bus kecil maupun Elf.

24 HOURS BANGKOK! MAKE IT RIGHT THE LAST JOURNEY FAM-MEET

by 13:10



"I'm in love with the sounds of language, I don't understand and the scents of food my tongue has never felt" - Jasmine Bhullar

Jika kalian bertanya negara apa yang dapat membuat saya jatuh hati berulang kali, dengan yakin saya dapat menjawab "Thailand!". Sejak pertama kali saya menjejakan kaki di negara ini pada tahun 2005, kepergian saya ke negara gajah putih ini selalu membawa cerita tersendiri yang selalu terkenang. 

Agustus 2017, dimana saya melakukan perjalanan tergila yang pernah dilakukan. Hanya 24 jam di Bangkok, semata-mata untuk menghadiri fan-meet dengan aktor dan aktris dari salah satu lakorn kesukaan saya, Make It Right The Series. 

Bukan tanpa alasan, saya harus cepat kembali ke ibukota karena sebenarnya pada hari itu saya ada pekerjaan menanti, dan sangat tidak bijaksana jika meminta lebih dari apa yang telah diberikan oleh atasan saya.

Dengan rasa kantuk akibat lembur pada hari sebelumnya, pada pukul 04.30 saya berangkat ke bandara. Hari baru saja selesai, paling tidak itu yang dipikirkan oleh para penikmat malam, namun keriuhan dan antrian panjang di bandara sudah terlihat. Dengan keberhasilan saya menjawab pertanyaan "Kapan kembali ke Indonesia?" dari petugas imigrasi, perjalanan menuju Bangkok berjalan dengan disertai turbulensi. 

Sebenarnya acara fanmeet sudah dimulai sejak pukul 13.00 dan saya pun telah berjanji akan bertemu dengan teman sekitar pukul 14.00 di tempat acara berlangsung. Namun segala persiapan dan permintaan khusus dari adik semata wayang membuat saya baru dapat sampai venue pada pukul 16.00 dan kira-kira beginilah keadaannya...


ramai!! penuh dengan fans dari Thailand maupun Cina atau Taiwan. Untuk mengambil foto ini perlu naik kursi dahulu dan dibutuhkan kamera yang dilengkapi dengan lensa tele untuk hasil terbaik. 



Lelah dengan lautan manusia saya pun berkeliling venue, terdapat standee yang dapat digunakan untuk berfoto, booth penjualan official merchandise, booth komunitas fans, maupun booth permainan.

favorit!

Saat sesi pengundian foto bersama, berhasil maju sedekat ini melawan fans dari Cina atau Taiwan


semakin dekat

Sekitar pukul 18.30, pintu masuk venue dibuka dan eventnya sendiri baru dimulai pada pukul 19.00. Acara ini diisi dengan games, nyanyian, tarian, dan mini drama yang sangat interaktif dengan fans-fans yang datang. Terdapat kejutan kecil juga yang telah disiapkan untuk para aktor dan aktris. Dipenghujung acara, kami juga dapat bersalaman maupun memberikan hadiah kepada mereka. 

Salah satu hal yang saya pelajari dari dunia fandom Thailand. Selain dengan para aktor dan aktris, kalian juga dapat mengenal dengan keluarga mereka, sehingga jika kalian ingin mengabadikan momen dengan mereka ataupun menyapa pun bisa saja. Bahkan teman saya bertemu dengan adik salah satu aktor di kamar mandi! 


pemandangan dari tempat duduk

Entah nyanyian apa yang dilantunkan, namun saya senang.


Pukul 22.00

Acara selesai dan kami harus mengejar BTS (hampir terakhir) untuk kembali ke penginapan. Begitu keluar venue...DAMN!! HUJAN DERAS!!! Mau tidak mau, meskipun kaki lecet karena sepatu dan harus kehujanan kami pun berlari menuju stasiun MRT terdekat untuk kemudian menyambung BTS.

after event dengan partner nonton hari itu. Agak unik karena meskipun sudah saling kenal di fandom lain namun hampir tidak pernah ngobrol. Bisa datang bareng ke event ini dan membantu proses pembelian tiket hingga kehujanan bareng mengejar kereta sungguh keajaiban tersendiri dari dunia fandom. 

Banyak pengalaman baru tak terduga yang saya dapatkan dari acara ini, baik tentang diri saya maupun tentang orang lain. Tidak sia-sia perjalanan saya dari subuh dengan turbulensi, antusiasme yang mengalahkan rasa lapar, kehujanan mengejar kereta (hampir) terakhir dan kembali mengejar pesawat siang keesokan harinya untuk melaksanakan kewajiban yang tertunda. 

Tidak selalu, namun ada energi positif yang datang dari lingkungan dan pengalaman baru jika kalian berani mencoba.

Belajar Move-On dari Masa Lalu

by 13:48




Tahun lalu merupakan tahun yang cukup aneh untuk saya. Lulus dari perguruan negeri ternama dan mendapat pekerjaan di kantor milik asing dengan bidang yang saya suka dalam waktu relatif cukup cepat, tidak menyurutkan pertanyaan yang selalu berdengung di dalam kepala

"Lalu apa?"

Pertanyaan itu seperti matahari pagi dan kecupan selamat tidur.

Hari terus berjalan dan deru kendaraan tetap meraung, pada suatu titik saya lelah dengan pertanyaan itu, lelah dengan kehidupan. Gedung-gedung pencakar langit seperti telah memakan jiwa, dentingan ramai notifikasi aplikasi chatting dan kompetisi tanpa tujuan dalam dunia maya tidak menutup ruang kosong di hati. 

Rasanya berat untuk melangkah pergi setiap hari. Memilih baju untuk ke kantor, menyiapkan makan siang dan kegiatan melatih tubuh pun terasa semakin berat. 


"THE LIFE-CHANGING MAGIC OF TIDYING UP"

KonMari oleh Marie Kondo. Seni beberes dan metode merapikan ala Jepang yang menurut Dee Lestari dapat mengubah hidup pembacanya. Tidak lama dari selesai membaca karya tersebut, saya pun mengosongkan 1 hari untuk melakukan apa yang tertulis dalam #1 New York Times best seller book tersebut. 

Metode KonMari kurang lebih membantu pembaca untuk membuang dan merapikan ruangan secara menyeluruh dalam satu waktu. Dengan membereskan ruangan, diharapkan pembaca dapat membereskan urusan dan masa lalu mereka karena pada akhirnya hanya ada benda-benda yang benar-benar mereka sukai disekellingnya.

Singkat kata, melalui KonMari kita diajarkan untuk meminimalisir kebutuhan dengan 'mendonasikan' dan kedepannya bisa menggunakan barang sesuai fungsi dan kesukaan, bukan mengikuti tren yang ada. Berikut beberapa barang yang akhirnya didonasikan untuk orang lain.


 tas favorit sejak SD

 Komik, novel dan berbagai buku lainnya 

 kumpulan tas

koleksi binder 

baju, dress, dan celana

 koleksi komik

salah satu koleksi favorit yang dulu sulit didapatkan karena terbatasnya internet dan sistem pembayaran

"Lalu apa?"

Hampir 7 bulan setelah saya membereskan barang-barang tersebut, apakah ada perubahan? Hingga kini saya pun masih belum dapat menjawab pertanyaan "Lalu apa?" dan mengetahui dengan pasti apa yang saya inginkan. Ruang kosong itu masih ada, namun saya tidak lagi melihat barang sebagai alat kompetisi, melainkan fungsi. Kualitas dan asal barang menjadi catatan utama saat pembelian. 

Pelan-pelan saya merasa seperti melepas ego yang didapatkan dari kebanggaan ketika dapat menghasilkan penghidupan bagi diri sendiri. Dengan ini saya belajar move-on dari masa lalu dan mencoba berfikir kedepan.

Moulin Rouge : Ternodainya Kepercayaan The Duke

by 15:10

Pernahkah kalian hidup dalam imaji penuh kebahagiaan? masa dimana malam terasa panjang dan pagi datang dengan cepatnya. Hingga akhirnya, gemuruh datang memekikkan teriakan nyaringnya ke seluruh jiwamu, mencabik raga dan menggerogoti nalarmu, lalu pergi menyisakan kemarahan yang membuncah dalam diam. 

Saya pernah.

2 tahun, saya menginvestasikan beberapa bagian sudut ruang hati, waktu, dan pikiran untuk Sparkling Diamond(s). Jarak yang memisahkan, membuat pertemuan singkat terasa semakin spesial. Bagian terbaiknya? Si cantik Satine selalu bisa memastikan dopamine dalam diri saya berfungsi dengan baik. 


Sampai suatu hari, saya mengetahui kebenaran antara dirinya dan Christian. Sakit? YA, Cemburu? TIDAK, Kecewa? SANGAT. Saya bukan orang bodoh yang tidak menyadari kedekatan spesial antara mereka, namun sepertinya saya terlalu naif untuk percaya kepada Zidler, Toulouse, dan semua orang yang menginginkan pertunjukan tetap berjalan. Jangan pernah kalian ungkit harga diri! Itu hal terakhir yang ingin saya bicarakan. 

-----------------------------------------------

Berbeda dengan The Duke yang dapat berteriak, mencabik dan mengoyak balutan sutra dan hiasan indah pada dirinya, saya tidak. Beberapa hari saya marah dalam diam, menunggu jatuhnya tetesan air mata hingga memohon iba kepada orang-orang, sekiranya adakah belas kasihan untuk melepaskan perasaan tak tertahankan ini?

Banyak yang mengiba, tak jarang cemooh didapat. 

Hingga akhirnya datanglah keajaiban itu, “El Tango De Roxanne”. 

Diiringi hentakan musik tango dan alunan minor biola, perpaduan vokal Narcoleptic Argentinean serta tangisan mengiba Christian – Satine, luapan kemarahan tanpa ampun “You make me believe that you love me!” The Duke, dan ekspresi putus asa sepasang kekasih tanpa kepastian takdir. Saya melihat wajah itu dipantulan kaca, sepasang bola mata hitam menatap lurus dengan senyum mengembang, ekspresinya tampak angkuh namun entah mengapa saya merasa ringan. 


Pada akhirnya, saya masih tidak mengerti, siapa yang lebih menyedihkan antara Christian-Satine yang harus menutup rapat kisah romansa mereka atau The Duke, orang yang dikhianati kepercayaannya. Semua itu, semata-mata demi sebuah pertunjukan. 


Dipersembahkan untuk fans overprotective dan delusional di luar sana 

Powered by Blogger.